ANALISIS MODEL PENDIDIKAN ORANG DEWASA

ANALISIS MODEL PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Dipersiapkan oleh:

SUAIDIN

  1. I. PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Pendekatan yang dimaksud di sini adalah perspektif yang digunakan dalam mendesain pembelajaran dengan memanfaatkan metode, media, dan teknik pembelajaran yang dipilih. Adapun model, adalah contoh aplikasi desain pembelajaran tersebut.

Memperhatikan bahwa peserta pelatihan adalah orang dewasa, maka pendekatan yang dilakukan adalah berdasarkan pendidikan orang dewasa, yang disebut Andragogi. Pengertian Andragogi adalah  seni dan ilmu tentang cara menolong orang dewasa untuk belajar. Andragogi, bebeda dengan model pembelajaran yang dikembangkan terdahulu yang berdasarkan pedagogi; yaitu seni dan ilmu tentang cara menolong anak – anak  untuk belajar.

Untuk menganalisis model pembelajaran orang dewasa secara lebih jelas, berikut ini terlebih dahulu dibedakan antara kedua pendekatan tersebut, yang dapat dibagi ke dalam empat dasar perbandingan, yaitu :

Perbandingan Pedagogi Androgogi
Konsep Siswa
  • Peran siswa bersifat tergantung (dependent)
  • Guru diharapkan dapat memegang tanggung jawab penuh untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan terjadinya dan bagaiman cara pembelajaran, serta hasil yang ingin dicapai seperti apa
  • Pern siswa “self directedness
  • Guru bertanggung jawab untuk mendorong dan membimbing proses belajar
  • Secara psikologis seseorang memiliki kebutuhan untuk mengarahkan dirinya sendiri, meski kadang kala pada situasi tertentu masih tergantung pada gurunya
Role of Learner Experience (pengalaman siswa)
  • Pengalaman siswa kurang dihargai, mungkin hanya digunakan pada awal saja dan untuk seterusnya pengalaman yang diperoleh siswa kebanyakan diperoleh dari guru, textbook, audiovisual, atau ahli – ahli lainnya.
  • Tekhnik utama pengajaran adalah tekhnik transmittal, seperti melalui kuliah, membaca
  • Pengelaman siswa dijadikan sumber pembelajaran yang kaya untuk dirinya maupun orang lain
  • Siswa mendapat substansi belajar daripengalaman mereka sendiri, jadi mereka tidak bersifat pasif
  • Teknik pengajaran yang digunakan adalah : Experiental Techniques
Kesiapan Belajar
  • Kesiapan belajar ditentukan oleh pihak di luar siswa, seperti masyarakat dan sekolah.
  • Sebagian besar siswa memiliki usia sebaya dan akan memiliki kesiapan yang sama untuk belajr hal – hal yang sama
  • Program pembelajaran terorganisir ke dalam kuri -kulum yang standar dengan tahapan kemajuan yang seragam bagi semua siswa
  • Siswa dikatakan siap belajar apabila mereka memiliki kebutuhan untuk mempelajari hal–hal yang ingin mereka pelajari, dalam rangka mengatasi masalah di kehidupnyasecara memuaskan
  • Pendidik bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi dansarana, serta prosedur untuk membantu siswa memenuhi keingin tahuannya
  • Program pembelajaran dibuat berdasarkan kemungkinan untuk diaplikasikan dalam kehidupan, dan tahapan pembelejarannya dibuat tergantung dari kesiapan siswa untuk belajar
Orientasi Belajar
  • Orientasi belajar bersifat “subject oriented”
  • Siswa memandang pendidikan sebagai proses memperoleh isi dari subjek materi yang diajarkan
  • Siswa menilai bahwa materi tersebut akan berguna di kemudian hari
  • Orientasi belajar bersifat : “ performance centered”
  • Siswa memandang pendidikan sebagai proses perkmbangan kompetensi yang dapat meningkatkan atau mencapai potensi yang sepenuhnya dalam hidup
  • Mereka ingin mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapat kedalam kehidupan nyata secara efektif

  1. II. MENETAPKAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan belajar secara umum mengandung unsur:

  1. tingkah laku yang terobservasi

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “will be able to”

Sebagai contoh : seseorang dapat bertingkah laku asertif.

  1. terdapat kriteria atau dapat diukur keberhasilannya.

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “ how often, how many, how much, how high, how fast”.

sebagai contoh : dari lima situasi yang mengharuskannya bersifat asertif , dia dapat melakukan tiga tingkah laku yang menggambarkan bahwa ia seorang yang asertif.

  1. kondisi di mana suatu tingkah laku dapat ditampilkan

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “without reference to the manual”

sebagai contoh : “di hadapan pimpinan dan koleganya” seorang perempuan dapat menunjukkan sifat asertifnya.

Cara lain yang dapat digunakan untuk melihat hasil belajar adalah : dengan metode yang digunakan oleh Bloom, bahwa ada tiga domain yang berperan, di mana tujuan belajar dapat ditetapkan pada: perolehan pengetahuan baru, perubahan sifat dan keterampilan/perilaku baru.

Ketiga domain tersebut adalah :

  1. Cognitive

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi : pengetahuan, pemahaman, analisa, sintesa dan evaluasi.

  1. Afektif

Berkenaan dengan hasil belajar yang menyangkut perubahan sikap, nilai, minat dan emosi.

  1. Psikomotor

Berkenaan dengan hasil belajar yang menyangkut keterampilan dan tampilnya tingkah laku yang diharapkan.

Penetapan tujuan pembelajaran perlu ditentukan apakah tahapan hanya sampai pada peningkatan pengetahuan/wawasan, pada perubahan/perbaikan perilaku.  Karena tingkatan sasaran yang ingin dicapai akan berpengaruh pada durasi pembelajaran dan penggunaan metode – metodenya.

  1. III. METODE PELATIHAN

Ada berbagai macam metode training, namun hanya beberapa yang akan dibahas, sesuai dengan keperluan pembekalan materi yang disampaikan.  Metode– metode di bawah ini bertujuan membantu siswa/peserta mendapatkan “insight” (pemahaman yang mendalam) dan memungkinkan siswa/peserta mengalami/merasakan sendiri aplikasi dari materi yang diberikan.

  1. Ceramah : menyampaikan materi secara verbal oleh instruktur, di mana ceramah pada umumnya bersifat satu arah.  Sehingga peran siswa cenderung pasif.  Agar dapat menimbulkan komunikasi dua arah, instruktur memberikan pertanyaan – pertanyaan dan mencari umpan balik
  2. Self Asessment : melakukan penilaian terhadap diri sendiri berkenaan dengan materi yang dibahas.  Penilaian diri meliputi, misalnya : perasaan, kecenderungan minat, sikap dan perilaku, kondisi diri dan lain – lain.  Untuk mempersiapkan alat self assessment, perlu :
  • Menyusun alat yang memancing materi yang diajarkan dari diri peserta pelatihan. Dapat dilakukan dengan mulai membuat pertanyaan ataupun pernyataan yang menyangkut materi dalam aplikasinya
  • Membuat standar pengisian dan penilaian
  1. Diskusi kelompok : melakukan diskusi terhadap materi tertentu yang dijadikan tujuan pemahaman dalam pelatihan.  Disini peserta saling berbagi pemikiran, ide, serta dapat memberikan dukungan atau bantahan terhadap suatu komentar, yang pada ahirnya mencapai satu kesepakatan dalam kelompok.  Dalam pelaksanaan diskusi kelompok  seharusnya memperhatikan:
  • Diberikan materi dasar untuk didiskusikan, lalu dilakukan analisa terhadap suatu topic
  • Ditentukan tujuan yang ingin didapat
  • Ditentukan waktunya
  1. Permainan (Games) : melakukan suatu permainn untuk melihat perbandingan hasil belajar dari beberapa kelompok peserta pelatihan.  Metode ini biasanya menggugah motivasi peserta untuk belajar.  Cara – cara yang dilakukan untuk membuat games antara lain :
  • Menetukan tujuan games/permainan serta waktu yang akan digunakan
  • Menentukan aturan main yang akan diterapkan
  • Mempersiapkan alat yang akan digunakan
  1. Bermain Peran : memainkan peran tertentu sesuai dengan tujuan dari pendalaman materi yang telah diajarkan.  Dengan metode ini, peserta dapat melihat/mencontoh langsung sikap/perilaku yang diharapkan ataupun tidak diharapkan.  Peserta berkesempatan mengalami sendiri kondisi yang diharapkan tampil.  Metode bermain peran dapat dilakukan dengan :
  • Menetapkan tujuan
  • Membuat materi yang akan diperankan
  • Menentukan prosedur pelaksanaannya
  • Menentukan waktu lamanya peran dimainkan

  1. IV. KETERAMPILAN FASILITATOR

Peran seorang fasilitator adalah sebagai “delivery agent” dari sistim pembelajaran.  Oleh karena itu fasilitator perlu mempunyai keterampilan – keterampilan tertentu agar proses belajar dapat berlangsung dengan dinamis dan terciptanya hubungan timbal balik antara fasilitator dengan peserta, sehingga peserta termotivasi untuk aktif.

  1. 1. Menguasai Materi

Dalam mempersiapkan untuk berperan menjadi fasilitator maka seseorang harus menguasai materi yang akan diberikan, dengan cara :

  1. Memahami substansi materi
  2. Hafal garis besar materi
  3. Membuat rangkuman hasil materi
    1. 2. Keterampilan Komunikasi
    2. a. Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah proses pengiriman pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan.

  1. b. Proses Komunikasi
  1. c. Jenis komunikasi

Adapun jenis komunikasi antara lain :

1.  Komunikasi Verbal         :  menggunakan bahasa

2.  Komunikasi Non Verbal : yang ditandai dengan respon yang tidak menggunakan bahasa, seperti menggunakan gerak tubuh, sikap tubuh, ekspresi wajah, intonasi, volume suara, kecepatan bicara dan lain – lain.

Bahasa tubuh :

-          Tidak disadari

-          Mempunyai arti yang lebih luas

-          Lebih cepat dipahami

-          Pesan/arti yang spontan/jujur.

  1. Komunikasi yang Efektif

Agar terjadi dua arah yang efektif, maka seorang fasilitator efektif perlu :

1.  Membuat rencana komunikasi

Hal–hal apa yang ingin dikomunikasikan dan kepada siapa komunikasi tersebut diarahkan. Hal ini berkaitan dengan mengkomunikasikan materi yang ingin disampaikan kepada peserta pelatihan.

2.  Memahami kondisi peserta

Perlu disadari adanya latar belakang pendidikan, pengalaman, sosio kultur dari peserta yang berbeda–beda maka cara penyampaian materi pun harus disesuaikan dengan kondisi–kondisi tersebut agar tidak terjadi miss comunication

3.  Menggunakan umpan balik

Untuk memastikan apakah peserta telah memahami informasi yang disampaikan, adanya proses Tanya jawab antara fasilitator dengan peserta  menandakan telah terjadinya komunikasi dua arah.

4.  memakai komunikasi non verbal

Penggunaan komunikasi non verbal yang tepat dapat menguatkan pesan yang disampaikan fasilitator kepada para peserta, sehingga para peserta dapat betul–betul memahami apa yang ingin disampaikan oleh si fasilitator.

  1. e. Pendengar Aktif

Mendengar efektif adalah melibatkan para peserta pelatihan, tidak hanya sekedar memberi perhatian, namun peserta juga harus aktif, berempati dan bersikap mendukung terhadap si pembicara, sehingga mengisyaratkan bahwa “Saya mengerti, silahkan dilanjutkan”.  Pendengar yang memiliki respon seperti itu dapat dikategorikan sebagai pendengar yang aktif.

Tingkah laku yang berkaitan dengan pendengar aktif antara lain:

-                Membuat kontak mata

-                Menampilkan ekspresi wajah yang sesuai dan menganggukkan kepala

-                Menegaskan kembali (paraphrase)

-                Tidak menginterupsi pembicara

  1. 3. Gerak Fisik Fasilitator

a.   Fasilitator sebaiknya berdiri dengan tidak terhalang oleh kursi, meja taupun podium yang mungkin menghambat terjadinya komunikasi dua arah

b.   Sebaiknya fasilitator berkeliling (sewaktu kegiatan diskusi kelompok, games, role play) untuk mengetahui apakah proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

c.   fasilitator sebaiknya bergerak di antara peserta untuk melakukan control, memotivasi dan mereinforce (memberi penguatan) sikap dan perilaku peserta.

  1. 4. Memiliki Sifat Empati dan Asertif

Empati :

Upaya untuk mengerti dan memahami kondisi dan cara berfikir orang lain dari sudut pandang orang tersebut, tanpa melibatkan sisi penilaian dan emosi.

Fasilitator perlu memiliki sifat empati terhadap siswa agar proses pembelajaran betul – betul berdasarkan kesiapan dari siswa.

Manfaat dari sifat empati dalam pelatiahan :

  1. Fasilitator dapat mengetahui apakah siswa telah mengerti atu belum materi yang disampaikan.
  2. Kegiatan diskusi kelompok, bermain peran atau games, dapat disesuaikan dengan sasaran pencapaian dari aspek Cognitive, afektif dan psikomotor.
  3. Siswa merasa terdorong untuk terus berpartisipasi aktif selama kegiatan pelatihan berlangsung.
  4. Memungkinkan siswa merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan selama proses pelatihan berlangsung.
  1. V. FASILITAS PENUNJANG PEMBELAJARAN
    1. Media untuk pengajaran
      1. a. Whiteboard

-          alat yang paling mendasar dan sederhana

-          mudah didapat dan mudah penggunaannya

-          memiliki fungsi yang kurang optimal

  1. b. Flipchart
  2. c. OHP/INFOCUS

-          harga relative mahal

-          memiliki fungsi yang cukup optimal

  1. Mike

-          untuk memperjelas suara fasilitator

-          membantu peserta untuk dapat mendengar suara fasilitator secara konsisten dan stabil atas ceramah/ materi/instruksi yang diberikan

-          untuk ruangan yang relative besar, peralatan ini mutlak digunakan

  1. Dan fasilitas pendukung lainnya (seperti : film, simulator, audio tape, slide, dll)
  2. Penataan ruang pelatihan
  3. Kriteria ruang pelatihan

-          Fleksibel

Mudah diubah setting fisiknya sehingga dapat digunakan multiple fungsi (ceramah, diskusi kelompok, panggung untuk roleplay dan games)

-          Terisolasi

Jauh dari kebisingan dan gangguan lainnya

-          Penerangan/ pencahayaan

Ruang pelatihan perlu mendapat penerangan /pencahayaan yang optimal

  1. Tatanan fisik ruang pelatihan

-          sebaiknya tatanan tidak seperti ruang kelas

-          memudahkan peserta untuk saling berinteraksi

-          tidak mengesankan adanya jarak antara fasilitator dan peserta

-          memudahkan fasilitator untuk berkomunikasi dengan setiap peserta dan sebaliknya.

  1. Materi yang dibutuhkan untuk games dan roleplay → tergantung jenis games dan roleplay.
  2. VI. MODUL MATERI

Tujuan dibuat modul agar proses pelatihannya berjalan sesuai target yang diterapkan.

Modul :

Mata Kuliah/Materi    :
Bahan                         :

( Materi, fasilitas pendukung metode yang digunakan, fasilitas penunjang pelatihan beserta jumlahnya)

Tujuan umum             :

(Kompetensi Dasar)

Tujuan Khusus           :

(Indikator)

Materi                         :

( Rincian/ bab materi yang akan dibahas)

Uraian Materi             :

dan Waktu

  1. VII. EVALUASI KEGIATAN

Tujuan evaluasi kegiatan dapat ditinjau berdasarkan kegunaannya yaitu :

  1. Evaluasi Program :

Bertujuan untuk perbaikan/ peningkatan program pelatihan, yang terdiri dari :

-          menetapkan tujuan pelatihan

-          subjek materi

-          metode pelatihan

-          teknik mengajar

-          proses pembelajaran

-          fasilitator

  1. Evaluasi Oprasional :

Bertujuan untuk perbaikan/peningkatan operasional penyelenggaraan pelatihan yang meliputi :

-          identifikasi kebutuhan penyelenggaraan pelatihan

-          proses perencanaan

-          pengelolaan administrasi

-          orang – orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pelatihan, meliputi : panitia, pakar pelatihan, petugas administrasi dan lain – lain.

-          Fasilitas fisik (ruang kelas dan alat penunjang)

-          Humas

Salah satu cara yang paling evektif dan efisien untuk mendapatkan umpan balik tentang kegiatan pmbelajaran yaitu dengan cara Questionare: formulir pertanyaan yang harus diisi oleh setiap peserta yang mencerminkan ekspresi perasaan, taraf kepuasan dan pandapat tentang kegiatan pelatihan.

Evaluasi kegiatan, biasa dilakukan pada sesi akhir dari suatu program pelatihan.  Data yang diperoleh digunakan untuk menganalisa program dan sebagai masukan untuk mendesain program pelatihan selanjutnya.

Daftar Pustaka

Robbins, Spephen P., Organizational Behavior-Concepts, Controversies and Application, Prentice Hal International, New Jarsey, 1991.

Laird, Duncan, Approaches to Training and Development, Addison-Wesley Pup., Massachhusetts, 1985

Knowles, Malcom S., The Adult Learner, Gulf Publishing, Texaz, 1998

Courtney, Sean, 1992. Why Adults Learn—Towards a Theory of Participation in Adult Education, London and New York, Routledge.

Djiwandono,  Sri Esti Wuryani, 2002. Psikologi Pendidikan,  Jakarta, Grasindo.

M. Smith, Robert, 1982. Learning How to Learn—Applied  Theory for Adults, New York, Cambridge The Adult Education Education Company.

Soemanto, Wasty, 1998,Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT.  Rineka Cipta.

Sukaji, Soetarlinah 2000, Psikologi Pendidikan dan Psikologi sekolah, Depok, LPSP 3, Fakultas Psikologi UI.

PENERAPAN  STRATEGI  PEMBELAJARAN  APLIKATIF

Dipersiapkan oleh:

Djunaidatul Munawaroh

Melvin Silbermen melengkapi pernyataan Confucius mengenai tiga macam cara belajar yang berbeda—belajar dengan mendengar, dengan melihat, dan dengan melakukan—dengan menyatakan:

What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa).

What I hear, see, and ask questions about or discuss with someone else, I begin to understand (apa yang saya dengar, lihat, pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai memahami).

What I hear, see, discuss and do, I ackquire knowledge and skill (apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan saya lakukan, saya mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan).

What I teach to another, I master (apa yang saya ajarkan kepada orang lain, saya menguasainya).

Cara belajar yang demikian akan dapat melayani banyak siswa yang tentu berbeda-beda gaya belajarnya. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyebutkan tiga tipe orang dengan gaya belajar yang berbeda yaitu:

(1) tipe visual; Orang-orang tipe visual lebih mengingat apa yang dilihat dari pada apa yang didengar, pembaca cepat dan tekun, tidak begitu terganggu oleh kebisingan, akan tetapi dia mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis.

(2) tipe auditorial; orang-orang verbal lebih mampu belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat atau dibaca, senang membaca dengan suara keras dan mendengarkan, sulit untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita, suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar, dan bermasalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi.

(3) tipe kinestetik; orang-orang kinestetik lebih mampu belajar dengan praktik, banyak menggunakan isyarat tubuh, berkeinginan untuk melakukan segala sesuatu, menyukai permainan yang menyibukkan, berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, dan tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama.

Tipologi di atas tidak berarti setiap orang hanya memiliki satu gaya belajar, akan tetapi dia memiliki kecenderungan untuk lebih mampu belajar dan menguasai suatu pengetahuan atau ketampilan dengan metode belajar yang sesuai dengan tipe dirinya. Karena itulah guru sedapat mungkin menerapkan metode-metode belajar yang dapat memfasilitasi keberagaman tipe belajar dan membuat siswa aktif.

Active Learning juga didasarkan atas asumsi bahwa :

  1. Pembelajaran hanya bisa terjadi jika siswa merasa terlibat aktif secara mental maupun fisik.
  2. Setiap siswa memiliki potensi untuk bisa dikembangkan dengan menggunakan berbagai metode belajar—melalui diskusi, presentasi, peragaan, melakukan, dsb.
  3. Peran guru lebih sebagai fasilitator pembelajaran. Paradigma pembelajaran sekarang ini adalah Student Centered Learning, pembelajaran berpusat pada siswa; dan tidak mengikuti paradigma banking concept yang mengandaikan siswa ibarat tabung kosong yang hanya pasif menerima pelajaran. Siswa didorong untuk bisa memperoleh pengetahuan dengan caranya sendiri.

Berikut ini adalah contoh-contoh praktis kegiatan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif, inovatif, kreatif, dan senang (PAIKEM).

A. Jigsaw Learning

Teknik pembelajaran yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok” (group-to-group exchange), dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.

Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi pelajaran yang banyak, dapat dipelajari dengan disingkat atau “dipotong”, dengan ketentuan tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum bagian yang lain.

Setiap kali peserta didik mempelajari sesuatu yang dipadukan dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain, dibuat sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian.

Langkah-langkah:

1. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Satu bagian dapat disingkat menjadi beberapa alenia atau beberapa halaman. Contohnya, antara lain:

  • Materi tentang syarat sah salat, syarat wajib salat, dan hal-hal yang membatalkan salat.
  • Materi tentang meneladani ketabahan dari kisah  Nabi Ayub AS.

2. Hitunglah jumlah bagian materi belajar dan jumlah peserta didik. Bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang berbeda. Contoh : misalnya sebuah kelas terdiri atas 12 orang peserta. Anggaplah anda dapat membagi materi pelajaran dalam tiga bagian, kemudian anda dapat membentuk tiga kwartet atau kelompok belajar yang terdiri dari empat orang dengan tugas membaca, berdiskusi, dan mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka.

3. Setelah selesai, bentuklah kelompok ”Jigsaw Learning”. Setiap kelompok mempunyai seseorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas. Setiap anggota masing-masing kwartet menghitung 1,2,3, dan 4. kemudian bentuklah kelompok peserta didik ”Jigsaw Learning” dengan jumlah sama. Hasilnya akan terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 3 orang (trio). Dalam setiap trio akan ada seorang peserta yang mempelajari bagian 1, seorang untuk bagian 2, dan seorang lagi bagian 3.

4. Mintalah anggota kelompok “Jigsaw” untuk mengajarkan materi yang telah dipelajari kepada yang lain.

5.  Kumpulkan kembali peserta didik ke kelas besar untuk memberi ulasan dan sisakan pertanyaan guna memastikan pemahaman yang tepat.

Variasi

1. Berikan tugas baru, seperti menjawab pertanyaan kelompok tergantung akumulasi pengetahuan anggota kelompok jigsaw.

2. Berikan tanggung jawab kepada peserta didik yang lain guna mempelajari kecakapan daripada informasi kognitif. Mintalah peserta didik mengajari peserta lain kecakapan yang telah mereka pelajari.

B. Everyone Is a Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru)

Ini merupakan sebuah strategi yang mudah memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang ”pengajar” terhadap peserta didik lain.

Langkah-langkah:

1.  Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas. Contoh : guru menetapkan tugas bagi kelas untuk diskusi/membahas tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS, dengan membagikan kartu indeks guru meminta peserta didik menulis sebuah pertanyaan tentang kisah tersebut. Pertanyaan tersebut dikumpulkan, kemudian dibagikan lagi untuk direspons.

2. Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam-diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.

3. Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka peroleh dan memberi jawaban.

4. Setelah diberi jawaban, mintalah siswa lain di dalam kelas untuk menambahkan apa yang telah disumbang sukarelawan.

5. Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.

Variasi

1. Pegang kartu yang Anda kumpulkan, bentuklah sebuah panel responsden. Baca setiap kartu dan ajaklah diskusi. Putarlah anggota panel secara berkala.

2. Mintalah peserta didik menulis sebuah opini atau observasi yang mereka miliki pada kartu tentang materi pelajaran. Mintalah peserta lain setuju atau tidak dengan opini atau observasi tersebut.

C. Team Quiz (Menguji Tim)

Teknik ini meningkatkan kemampuan tanggung jawab peserta didik terhadap apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.

Langkah-langkah:

1. Pilihlah topik yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.

2.  Bagilah peserta didik menjadi 3 tim.

3. Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi. Batasi presentasi sampai 10 menit atau kurang.

4. Minta tim A sebagai pemimpin kuis, untuk menyiapkan kuis yang berjawaban singkat. Kuis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan. Tim B dan C memanfaatkan waktu untuk meninjau catatan mereka.

5. Tim A menguji anggota tim B. Jika Tim B tidak bisa menjawab, Tim C diberi kesempatan untuk menjawabnya.

6. Tim A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota Tim C, dan ulangi prosesnya.

7. Ketika kuis selesai, lanjutkan dengan bagian kedua pelajaran Anda, dan tunjuklah Tim B sebagai pemimpin kuis.

8. Setelah Tim B menyelesaikan ujian tersebut, lanjutkan dengan bagian ketiga dan tentukan tim C sebagai pemimpin kuis.

Variasi:

1.  Berikan kesempatan kepada tim ini untuk menyiapkan pertanyaan kuis dari yang mereka seleksi ketika mereka menjadi pemimpin kuis.

2.  Lakukan satu pelajaran yang berkelanjutan. Bagilah peserta didik ke dalam dua tim. Di akhir pelajaran, biarkan kedua tim saling memberi kuis satu sama lain.

D. Poster Session (Membahas Poster)

Metode presentasi alternatif ini merupakan sebuah cara yang tepat untuk menginformasikan kepada peserta didik secara cepat, menangkap imajinasi mereka, dan mengundang pertukaran ide di antara mereka. Teknik ini juga merupakan sebuah cara cerita dan grafik yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang sekarang sedang didiskusikan dalam sebuah lingkungan yang tidak menakutkan.

Langkah-langkah:

1. Mintalah setiap peserta didik menyeleksi sebuah topik yang dikaitkan dengan topik umum atau yang sedang didiskusikan/dipelajari.

2. Mintalah peserta didik mempersiapkan gambaran visual konsep mereka pada sebuah poster atau papan pengumuman (Anda tentukan ukurannya). Isi poster tersebut harus jelas, agar pengamat dapat dengan mudah memahami tanpa penjelasan tertulis atau lisan. Akan tetapi, peserta didik boleh saja memilih mempersiapkan satu halaman hand-out untuk mendampingi poster yang menerangkan lebih detil dan menayangkan bacaan lanjut.

3. Selama sesi kelas berlangsung, mintalah peserta didik memasang gambaran presentasi, dan dengan bebas berkeliling di ruangan memandang serta mendiskusikan poster yang lain. Contoh: pelajaran tentang makanan dan minuman yang diharamkan. Topik yang diberi mencakup :

  • Jenis-jenis makanan/minuman haram
  • Akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram terhadap diri semdiri
  • Akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram terhadap orang lain
  • Cara-cara menghindari makanan/minuman haram.

Salah satu peserta menggambarkan akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram dengan membuat poster yang menunjukkan gambaran berikut :

  • Seseorang yang memiliki badan dengan perut buncit
  • Seseorang sedang meminum minuman beralkohol terlibat pertengkaran
  • Seseorang yang sakit kepala

Di bawah masing-masing gambar di atas ada satu paragraf singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa seseorang yang mengkonsumsi makanan/minuman haram bisa menunjukkan gejala atau terlibat dalam perkara yang digambarkan dalam poster.

4. Lima belas menit sebelum kelas selesai, berundinglah dengan seluruh kelas dan diskusikan keuntungan apa yang mereka peroleh dari kegiatan ini.

Variasi:

1. Anda boleh memilih untuk membentuk tim ke dalam 2 atau 3 bentuk daripada membuat tugas individual, terutama jika topiknya terbatas.

2. Lanjutkan sesi gambar dengan diskusi panel dengan menggunakan beberapa peraga sebagai panelis.

E. Information Search (Pencarian Informasi)

Metode ini sama dengan ujian open book. Tim mencari informasi (normalnya dilakukan dalam pelajaran dengan teknik ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Metode ini khususnya sangat membantu dalam materi yang membosankan.

Langkah-langkah:

1. Buatlah kelompok pertanyaan yang bisa dijawab dengan cara mencari informasi yang dapat dijumpai di sumber materi yang telah Anda buat untuk peserta didik. Sumber informasi bisa mencakup :

  • Selebaran
  • Dokumen
  • Buku teks
  • Buku panduan
  • Komputer mengakses informasi

2. Berilah pertanyaan-pertanyaan tentang topik

3. Biarkan peserta didik mencari informasi dalam tim kecil.

Persaingan sehat bisa membantu untuk mendorong partisipasi.

4. Tinjau kembali jawaban selagi di kelas. Kembangkan jawaban untuk memperluas jangkauan belajar.

Variasi:

1. Buatlah pertanyaan yang memaksa peserta didik untuk menyimpulkan jawaban dari sumber informasi yang ada, daripada menggunakan pertanyaan yang bisa langsung dengan pencarian.

2. Daripada mencari jawaban pertanyaan, berilah peserta didik tugas yang berbeda seperti satu kasus untuk dipecahkan, latihan yang bisa mencocokkan butir-butir soal, atau menyusun acak kata. Jika tidak diacak, tunjukkan istilah penting yang terdapat pada sumber informasi.

F. Index Card Match/Make a Match (Mencocokkan Kartu Indeks)

Ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Ia membolehkan peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis dengan kawan sekelas.

langkah-langkah:

1. Pada kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan didalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang cukup untuk menyamai setengah jumlah siswa.

2. Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

3. Campurlah dua lembar kartu dan kocok beberapa kali sampai benar-benar tercampur.

4. Berikan satu kartu kepada setiap peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang pertanyaan review dan sebagian lain memegang jawaban.

5. Perintahkan kepada peserta didik untuk menemukan kartu permainannya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain untuk mencari tempat duduk bersama (beritahu mereka jangan menyatakan kepada peserta didik lain apa yang ada pada kartunya).

6. Ketika semua pasangan permainan telah menempati tempatnya, perintahkan setiap pasangan menguji peserta didik yang lain dengan membaca keras pertanyaannya dan menantang teman sekelas untuk menginformasikan jawaban kepadanya.

Variasi:

1. Kembangkan kartu yang memuat kalimat dengan kata yang hilang yang harus dijodohkan dengan kartu yang memuat kata yang hilang. Misalnya, Rasul penerima kitab Taurat adalah  ______Nabi Musa AS.

2. Kembangkan kartu yang memuat pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawaban, misalnya, ”siapa saja yang termasuk Nabi/Rasul Ulul Azmi?” Jodohkanlah semua itu dengan kartu yang memuat bermacam-macam jawaban yang sesuai. Ketika setiap pasangan menyampaikan kuis kelompok, mintalah mereka mendapatkan beberapa jawaban dari peserta didik lain.

G.  Explisit Instruction (Pengajaran Langsung)

Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan  dengan pola selangkah demi selangkah. Contoh: melafalkan ayat, menghafal/membaca al-Qur’an surat pendek, praktik salat.

Langkah-langkah:

  1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
  2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
  3. Membimbing pelatihan
  4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
  5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

H. Card Sort (Memilah dan Memilih Kartu)

Ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu obyek, atau mengulangi informasi. Gerakan fisik yang diutamakan dapat membantu untuk memberi energi kepada kelas yang telah letih.

Langkah-langkah:

1. Berilah masing-masing peserta didik kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori.

Berikut contohnya :

  • Termasuk kiamat
  • Puasa wajib
  • Dakwah Nabi Muhammad di Makkah
  • Dibaca Idhhar

2. Mintalah peserta didik untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sama (Anda bisa mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau biarkan peserta mencarinya).

3. Biarkan peserta didik dengan kartu kategorinya yang sama menyajikan sendiri kepada orang lain.

4. Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah beberapa poin mengajar yang Anda rasa penting.

Variasi:

1. Mintalah setiap kelompok untuk membuat presentasi mengajar tentang kategori tersebut.

2. Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berilah masing-masing tim satu set kartu yang lengkap. Pastikan kartu tersebut dikocok, sehingga kartu kategori yang mereka sortir tidak jelas. Mintalah setiap tim untuk menyortir kartu ke dalam kategori. Setiap tim bisa memperoleh nilai untuk nomor kartu yang disortir dengan benar.

  1. I. Role Playing (Bermain Peran)

Langkah-langkah:

  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi
  11. Penutup

J. Talking Stick

Langkah-langkah:

  1. Guru menyiapkan sebuah tongkat
  2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi.
  3. Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya.
  4. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
  5. Guru memberikan kesimpulan
  6. Evaluasi
  7. Penutup

Jakarta, 4 Juli 2009

About these ads

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s